[ Intellegent Quotient ]
Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh IQ
memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar. Menurut penyelidikan IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan sejak usia 3 tahun. daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetik) yang dibawanya dari famili ayah dan ibu disamping faktor gizi dan makanan yang cukup.
IQ ata daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa kecuali bila ada sebab-sebab kemunduran fungsi otak seperti ketuaan, kecelakaan, dll. IQ yang tinggi memudahkan seorang anak belajar dengan daya tangkap tinggi sehingga mampu memahami suatu masalah dengan mudah. Secara dini untuk menentukan IQ seseorang adalah pada saat seseorang pandai berkata-kata. Para Ilmuwan menentukan rumus kecerdasan umum, atau IQ sebagai berikut :
Misal, anak pada usia 3 tahun telah punya kecerdasan anak yang rata-rata baru bisa berbicara pada usia 4 tahun yang disebut dengan usia mental. Dengan demikian IQ si anak = 4/3 x 100 = 133.
EQ
Para pakar memberikan definisi beragam pada EQ, diantaranya adalah kemampuan untuk menyikapi pengetahuan-pengetahuan emosional dalam bentuk menerima, memahami, dan mengelolanya.
Menurut definisi ini, EQ mempunyai empat dimensi berikut :
1. Mengenal, menerima dan mengekspresikan emosi (kefasihan emosional) caranya mampu membedakan emosi orang lain, bentuk dan tulisan, baik melalui suara, ekspresi wajah dan tingkah laku.
2. Menyertakan emosi dalam kerja-kerja intelektual. Caranya perubahan emosi bisa mengubah sikap optimis menjadi pesimis. Terkadang emosi mendorong manusia untuk menerima pandangan dan pendapat yang beragam.
3. Memahami dan menganalisa emosi. Mampu mengetahui perubahan dari satu emosi ke emosi lain seperti berubahannya dari emosi marah menjadi rela atau lega.
4. Mengelola emosi
Mampu mengelola emosi sendiri atau orang lain dengan cara meringankan emosi negatif dan memperkuat emosi positif. Hal ini dilakukan dengan tanpa menyembunyikan informasi yang disampaikan oleh emosi-emosi ini dan tidak berlebihan.
Pada saat kita mendefinisikan kecerdasan emosional, sebenarnya kita sedang membicarakan potensi kecerdasan emosional yang oleh cendikiawan Muslim kuno disebut “kekuatan”. Artinya, kita sedang membicarakan potensi kecerdasan. Potensi memerlukan kesempatan untuk ditampakkan dan dikuatkan secara nyata. Sejak dilahirkan, manusia mempunyai kemampuan menulis dan membaca dengan kekuatan. Hanya saja, setelah ia belajar maka ia benar-benar bisa menulis dan membaca secara nyata misalnya, terkadang kita suka berbicara tentang kecerdasan bayi yang sedang menyusu, pada hal ia sendiri belum bisa menulis, membaca, atau mengikuti ujian kecerdasan. Kecerdasan sang bayi belum tampak karena ia belum diberikan kesempatan untuk mengembangangkan kecerdasan yang memungkinkan kita untuk menilainya.
Kecerdasan emosional bawaan bisa berkembang atau rusak, hal ini tergantung pada pengaruh yang diperoleh anak di masa kecil atau remaja. Pengaruh ini bisa datang dari orang tua, keluarga atau sekolah. Anak melalui hidupnya dengan potensi yang baik untuk perkembangan emosinya, hanya saja pengalaman emosi yang dialaminya di lingkungan anarkhis atau tidak bersahabat menyebabkan grafik perkembangan EQ nya menurun. Sebaliknya, bisa saja seorang anak mempunyai EQ bawaan yang rendah, namun EQ nya ini bisa berkembang dengan baik, jika ia di didik dengan baik melalui pengalaman-pengalaman emosional yang ramah dan bersahabat. Perilaku emosi cerdas yang diperlihatkan lingkungnya menyebabkan grafik EQ nya menjadi tinggi. Perlu kita ingatkan disini bahwa merusak EQ anak adalah lebih mudah dari pada mengembangankannya karena menghancurkannya selamanya lebih mudah dari pada membangun.
Kiat membagi kecerdasan emosional bawaan menjadi empat bagian yang saling mempengaruhi, yaitu :
1. Perasaan emosi
2. Mencari emosi
3. Proses emosi
4. Kemampuan untuk belajar emosi.
2. Mencari emosi
3. Proses emosi
4. Kemampuan untuk belajar emosi.
Salah satu pakar yang menyakini hal ini adalah (David Wechsler, Kecerdasan dan Kesehatan Emosional). Seorang penguji kecerdasan, Menurutnya kecerdasan adalah kemampuan sempurna seseorang untuk berprilaku terarah, berpikir logis, dan berinteraksi secara baik dengan lingkungannya. Sebagian pakar mendefenisikan kecerdasan emosional sebagai suatu kecerdasan sosial yang berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam memantau baik emosi dirinya maupun emosi orang lain, dan juga kemampuannya ini diungkapnya untuk mengarahkan pola pikir dan perilakunya. ( Salovey dan Mayer, 1990 ).
Diantara dimensi EQ yang mempunyai ikatan serta dengan keberhasilan dalam berdagang dan berkerja adalah kemampuan manusia dalam berintegrasi dengan perasaan dan emosinya, serta kemampuan beradaptasi dengan kesulitan dan kerumitan masalah yang dihadapinya. Diantara para orang tua yang gagal mengajarakan kecerdasan emosional kepada anak-anak sebagi berikut :
1. Orang tua yang mengabaikan yang tidak menghiraukan menganggap sepi, atau pun meremehkan emosi-emosi negatif anak.
2. Orang tua yang tidak menyetujui, yang bersifat kritis terhadap ungkapan perasaan-perasaan negatif anak.
dan barang kali memarahi atau menghukum mereka karena mengungkapkan emosinya.
3. Orang tua laissez-faire, yang menerima emosi anak dan berempati dengan mereka, tetap tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada tingkah laku anak tersebut.
2. Orang tua yang tidak menyetujui, yang bersifat kritis terhadap ungkapan perasaan-perasaan negatif anak.
dan barang kali memarahi atau menghukum mereka karena mengungkapkan emosinya.
3. Orang tua laissez-faire, yang menerima emosi anak dan berempati dengan mereka, tetap tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada tingkah laku anak tersebut.
Sebagai orang tua yang tidak menyetujui, barang kali memarahi karena menolak bekerja sama, dengan menyatakan kepadanya bahwa ia sudah bosan dengan tingkah lakunya yang bandel itu, dan mengancam untuk memukulnya. Maka dari itu pelatihan emosi tidaklah berarti bahwa semua pertengkaran jiwa. Konflik adalah fakta kehidupan rumah tangga. Namun, setelah mulai menggunakan pelatihan emosi, barang kali akan merasakan diri sendiri semakin akrab dengan anak-anak. Bila keluarga memiliki keakraban dan rasa hormat yang mendalam, masalah antara anggota keluarga tampaknya akan lebih mudah ditangung.
SQ
Danah Zohar, penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’ ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001).
Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.




